Hannover Messe Experience: Mengamati Kondisi Terkini Dunia Industrial Robot

 

Pada tanggal 18-29 April lalu, saya berkesempatan untuk menghadiri pameran teknologi industri terbesar di dunia, Hannover Messe 2016, di Hannover, Jerman. Event ini diadakan setiap tahun dengan tema yang berganti-ganti. Kali ini temanya adalah seputar revolusi keempat di dunia industri, sering disebut dengan istilah Industry 4.0. Intinya adalah pergantian filosofi manufaktur dari mass production menjadi mass customization. Visinya, di masa depan nanti setiap unit barang yang dipesan dapat dimodifikasi sesuai keinginan pembeli tanpa mempengaruhi harga dan waktu produksi. Dapat dibayangkan bahwa infrastruktur yang perlu dibangun untuk mewujudkan visi ini antara lain internet of things, network security, big data management, etc.

Pengalaman pertama saya di Hannover Messe (dan Jerman) cukup spesial karena tujuan saya ke sana adalah untuk mengikuti kompetisi KUKA Innovation Award 2016. Kompetisi yang membawa 6 tim dari universitas yang berbeda ini disponsori oleh perusahaan robot ternama asal Jerman, KUKA AG. Setiap tim dipinjamkan robot terbaru mereka, LBR IIWA + flexFELLOW, selama 4 bulan untuk kemudian diprogram mendemonstrasikan aplikasi yang bermanfaat untuk dunia industri. Tim saya (KU Leuven – Buddybot) mempresentasikan automated kitting process – terinspirasi dari studi kasus di pabrik Audi, Brussels. Setelah melalui perjuangan yang cukup melelahkan, sayang tim kami (KU Leuven) tidak berhasil menang. Meskipun demikian, saya masih dapat pembelajaran dan pengalaman yang tidak kalah berharga dari mengikuti event ini.

WhatsApp-Image-20160427

Menjelaskan cara kerja robot kami ke pengunjung

Kembali ke topik utama yang relevan dengan judul. Selama di sana, saya menargetkan diri untuk mengamati kondisi dunia robotika di sektor manufaktur. Tujuannya, untuk mengamati state-of-the-art teknologi industrial robots, mempelajari pemain-pemain yang ada saat ini, dan mencari celah dimana riset PhD saya dapat diaplikasikan. Dari pengamatan selama dua minggu, saya mengambil kesimpulan bahwa diukur dari kadar inovasi, ada 4 kategori perusahaan yang bermain di dunia industrial robot saat ini. Di level paling atas ada perusahaan-perusahaan besar seperti ABB dan KUKA yang terus melakukan inovasi. Perusahaan seperti ini sudah memiliki roadmap bisnis yang jelas, produk robot yang teruji dan mulai berfokus untuk membangun sistem menyambut Industry 4.0. Satu level di bawahnya ada perusahaan-perusahaan start-up seperti Rethink Robotics dan KBee AG yang memamerkan produk inovatif, namun mereka sepertinya masih berfokus ke inovasi di level robot itu sendiri (membuat robot yang lebih murah, mudah diprogram, safe, dll). Satu level lagi di bawahnya ada perusahaan-perusahaan besar seperti Staubli dan Kawasaki Robotics yang cenderung masih memamerkan produk robot yang sama. Perusahaan jenis ini hanya sedikit berinovasi sehingga terlihat agak ketinggalan. Terakhir, di level terendah ada perusahaan yang tidak terlihat inovatif sama sekali. Malahan, produknya terlihat seperti hanya meniru perusahaan lain. Sebagai contoh, ada perusahaan yang memamerkan robot yang benar-benar mirip robot ABB seri IRB. Bisa ditebak perusahaan ini biasanya berasal dari Cina.

IMG_20160426_172552.jpg

Robot dari Cina yang mirip ABB

Setelah mengamati kondisi dunia industrial robot, satu pertanyaan yang saya sering renungkan adalah: Jika ada perusahaan start-up Indonesia (sebut saja PT. X) yang bercita-cita menjadi perusahaan yang reputable dan inovatif di bidang teknologi industri, harus mulai dari manakah? Jujur sulit sekali untuk berinovasi dan menciptakan produk yang  baru tanpa menguasai state-of-the art dari teknologi saat itu. Inovasi itu menurut saya hanya dapat dicapai ketika suatu perusahaan sudah memiliki know-how yang jelas dari permasalahan yang ada di industri sehingga mereka bisa memprediksi future trend dan cara mencapainya. Lagi-lagi contoh kasusnya KUKA dan ABB. Dua perusahaan ini sudah memiliki sejarah yang panjang di dunia robot industri sehingga bukannya memprediksi tren, malah mereka yang membuat standard-standard baru. Rasanya bahaya sekali kalau PT. X memulai inovasi melalui cara coba-coba dan eksplorasi. Bisa-bisa bangkrut duluan sebelum bisa merilis produk yang sukses. Saya rasa ini alasannya kenapa perusahaan robot asal Cina (kebanyakan) cenderung play safe dan meniru produk perusahaan lain. Terus akhirnya PT. X harus gimana? Harus jadi kayak perusahaan peniru dulukah? Sekarang tiru dulu baru nanti kalau sempat bikin yang inovatif.

Oiya, selama dua minggu di Hannover Messe saya saya tidak melihat satupun perusahaan Indonesia. Ketika saya cari di database tidak ada entry Indonesia terlihat di informasi negara asal. Cukup mengherankan mengingat Indonesia sedang cukup giat meningkatkan sektor manufaktur. Saya ingat ada beberapa perusahaan Indonesia di event serupa, Cebit, namun dengan fokus di bidang IT. Sepertinya untuk teknologi manufaktur masih belum banyak pemainnya di Indonesia. Hehe..

 

Leuven, 5 Mei 2016

Yudha Pane

 

RESEARCH INTERNSHIP DI CMU ROBOTICS INSTITUTE (RI CMU)

Terhitung dari tanggal 1 Juni – 15 Agustus 2012 saya mendapat kesempatan untuk bekerja sebagai asisten riset di institut unggulan robotik, RI CMU. Karena saya merasa ada baiknya untuk membagi pengalaman menarik ini untuk teman-teman saya di ITB (khususnya URO dan AVRG) maka saya memutuskan untuk membuat tulisan tentang ‘petualangan’  sebelum dan setelah di CMU. Saya akan  memulai dengan introductory exposition mengenai motivasi riset, RI CMU, cara mendaftar di program ini, dan seperti apa suasana riset di CMU sendiri. Saya akan berusaha membuat tulisan ini se-appealing mungkin dengan tujuan untuk menarik minat teman-teman di ITB dan membuat kita menjadi berani untuk mencoba pengalaman riset semacam ini. Tulisan ini terutama ditujukan untuk teman-teman yang merasa riset dan project adalah passionnya atau yang ingin merasakan riset itu seperti apa (gak harus yang bener2 pengen jadi researcher). Hal yang saya skip di tulisan ini adalah cara mendapatkan visa Amerika, penjelasan kota Pittsburgh, dan beberapa hal lain yang tidak berhubungan langsung dengan riset di CMU.

1. Apa itu Riset

Saya sudah cinta dengan dunia robotik sejak 2,5 tahun lalu. Saya sudah mendesain, merancang bangun , dan ‘merusak’ cukup banyak robot dan mengikuti beberapa kompetisi robot (mulai dari galelobot , KRCI, technocorner, sampai dengan Trinity International). Hal ini cukup lama menjadi menarik buat saya sampai ketika saya berada pada titik dimana saya ingin mencoba sesuatu yang lebih. Saya ingin berkontribusi pada dunia robotik dengan meng-expand keseluruhan ilmu robotik. Jadi kalau diibaratkan semua ilmu robot di alam semesta ini sebagai suatu lingkaran dengan luas A, saya ingin menambah luas lingkaran itu menjadi A+δ. Untuk mendapatkan luasan sebesar δ ini saya harus menciptakan sesuatu yang benar-benar novel (unik, belum pernah ada sebelumnya). Nah proses meraih itulah yang namanya riset.

2. CMU dan Robotics Institute

Oke, keinginan untuk riset udah ada , sekarang cari cara untuk bisa mulai riset sesegera mungkin. Karena saya ingin riset di bidang robotik dan belajar dari expertnya langsung maka saya pun mulai mencari –cari opportunity untuk riset di lab robotik. Lama saya mencari-cari di internet, di jurnal2, paper2 hingga pada akhirnya saya mendapatkan informasi tentang kesempatan summer scholar di Robotics Institute , Carnegie Mellon University (RI CMU).

Setiap tahunnya CMU mengadakan program yang bernama Robotics Institute Summer Scholar (RISS) yang mempekerjakan mahasiswa S1 untuk membantu riset di salah satu lab robot mereka. CMU menawarkan hampir semua yang fasilitas dan research lab yang sangat menarik untuk pecinta robot mulai dari lab humanoid robot, bio-robot, sampai space robot. Total ada sekitar 40-an lab independen yang ada di RI CMU . Sebagian besar terkumpul di satu gedung besar khusus robotik dan beberapa lagi di gedung computer science. Lab-lab ini ‘dihuni’ oleh prof2 yang benar2 expert dalam bidangnya dan beberapa mahasiswa PhD bimbingannya. Nah, nantinya summer intern akan dibimbing langsung oleh Profnya dan dimentori oleh PhD students di lab tersebut. Selama intern, sebagian besar mahasiswa digaji dan ada beberapa yang tidak. Saya sendiri cukup beruntung mendapatkan bayaran 12 USD/ jam dengan 37,5 jam kerja tiap minggu. Jadi sebulannya sekitar 1800 USD. Sebagai perbandingan biaya hidup di kota Pittsburgh total menghabiskan sekitar 850-1200 USD perbulan (sudah termasuk tempat tinggal,transport,makan,dan sedikit hiburan).

 3. Cara Mendaftar dan Teknik-tekniknya

Lihat deksripsi Program di situs resmi RI CMU.

RI homepage : http://www.ri.cmu.edu/

RISS program web : http://www.cs.cmu.edu/~summerscholar/Robotics_Institute_Summer_Scholars/Robotics_Summer_Scholars_Program.html

Secara garis besar, ada 5 hal yang dibutuhkan untuk mendaftar, saya jelaskan satu2 di bawah.

   a.Transkrip Nilai Resmi.

Transkrip dengan GPA tinggi mendapatkan advantage di sini , apalagi didukung dengan mata kuliah yang mendukung robotics seperti matematika teknik, probabilitas statistik, programming, kontrol, dll. Saya sendiri ber-GPA 3,25 dengan course PTI-A, Alstrukdat, Matek I dan II, Probstat, dan Sistem Kendali. Saya belum pernah ambil course robotik.

   b.Statement of Purpose (Research Statement).

Terdiri dari 2 halaman A4, isinya menjelaskan kenapa kita suka dengan robotik, project/riset robotik apa yang kita telah kerjakan, apa yang ingin kita kerjakan nanti di CMU, dan lab yang kita ingin tuju di CMU nantinya. Di sini saya jelaskan sejarah saya sejak kecil suka nonton astroboy, tahap pencarian interest saya, pengalaman ikut lomba, pengalaman diterima jadi anggota AVRG, dan pengalaman lomba ke Amrik.

   c.Letter of Recommendation

Surat rekomendasi bisa berasal dari dosen, supervisor tempat kita pernah bekerja, dan head of department tempat kita kuliah. Rekomendasi yang kuat adalah rekomendasi dari orang yang benar2 tahu siapa kita, project yang kita kerjakan,dan yang paling lama bekerja dengan kita.  Saya dapat dua rekomendasi dari Pak Soni dan Pak Doni. Saya bekerja sama dengan beliau berdua dalam mendesain surat rekomendasinya. Haha..

   d.Resume / CV

Jangan samakan dengan CV melamar kerja. CV disini lagi-lagi menekankan pada riset dan project, lab tempat kita sedang bekerja saat ini dan yang lalu, dan beberapa kegiatan kita di luar robotics. Nanti saya sertakan format CV saya.

    e.Untuk pelamar dari negara berbahasa non-Inggris diwajibkan mengirimkan sertifikat kemapanan dalam bahasa Inggris /TOEFL score. Karena tidak sempat lagi ambil TOEFL, saya sertakan TOEFL prediction dadakan tanpa persiapan (paper based : 575). Karena tidak yakin juga dengan skor serendah itu, saya kirimkan sekalian sertifikat asli kursus B. Inggris saya mulai dari SMA (EF sampai level Intermediate II), dan beberapa sertifikat kursus conversation.

4. Suasana Riset di CMU

CMU terkenal dengan riset-risetnya yang bagus, terutama di bidang robotics. Dua minggu pertama di CMU saya merasa paling cupu diantara yang lain. Karena background saya sebenarnya ngoprek (desain PCB, nyolder, ngoding mikro, dsb) sedangkan riset itu mengutamakan daya analitik akan suatu problem dan kemampuan untuk memodelkan sistem secara matematis. Namun lama-lama saya belajar dan mulai bisa mengikuti , tapi harus dibayar dengan belajar dan kerja cukup ekstra (sampai harus tidur di lab buat baca2 paper dan textbook tentang probabilistic machine learning).

Tidak seperti di AVRG lab saya tercinta, di tempat saya bekerja cukup jarang bercanda dengan teman-teman satu lab. Mereka kalau pas jam kerja serius benar , jadi saya segan untuk ngajak becandaan. Haha.. Tapi jangan salah, bukan berarti mereka pure geek yang kerjaannya cuma riset melulu. Ketika tiba waktunya istirahat/refreshing mereka lebih ‘gila’ dari saya. Prinsip mereka : ‘work hard play even harder‘. Satu lagi perbedaan dengan AVRG adalah penghuni lab di kala malam. Mahasiswa di CMU sangat jarang menginap di lab. Jika sudah waktunya pulang mereka langsung cabut. Mereka rata-rata kerja antara 6-8 jam. Saya bekerja rata-rata 10-12 jam tapi tetap saja apa yang saya capai lebih sedikit dari yang mereka capai dalam waktu 6 jam. Well, saya akui saya memang bukan a fast learner dalam hal riset.  :))

5. Saran dan motivasi:

   a.Jangan takut untuk mencoba, ini pengalaman yang benar2 bagus untuk diikuti.

   b.Bagi yang mau lanjut S2 / S3 nanti, akan membantu kalau punya pengalaman riset di institut luar Indo.

   c.Merasa kurang cocok dengan CMU? atau dengan Amerika? Jangan menyerah untuk mencari-cari kesempatan lain di univ/negara berbeda. Saya kenal beberapa teman disini yang intern di Jerman (Max Planck Institut), Prancis (INRIA), Jepang, dll. Rajin-rajin mencari informasi dan tentu saja membagi informasi tersebut.

   d.Best of Luck.

Currency of the Future : Data

Is Start-up Likely to be My Future?

Dulu cita-cita saya cukup sederhana. Lulus dari ITB , lanjut MS , PhD , post doc di luar negeri,  dan jadi tenure-track professor di private research university  , hidup bahagia dengan istri dan anak (simpel kan? hehe..). Tapi tinggal dua bulan di CMU membuat saya kembali memikirkan cita-cita ini. Saya sedikit merasa seperti pengecut.  Satu dari banyak alasan saya mengejar karir sebagai akademisi adalah untuk menghindari resiko. Saya ingin hidup tenang menikmati tenure dan melakukan riset sesuka hati tanpa rasa khawatir akan dipecat, bangkrut dsb. Suddenly I feel so bad for this reason..

Lalu saya melihat sekitar,  CMU , Pittsburgh, United States. Begitu banyak kesempatan di sini. Atmosfir entrepreneurship begitu terasa. Banyak mahasiswa CMU (terutama CS) yang masih kuliah dan sudah memulai start-up company. Dalam sekejap asetnya mencapai ratusan ribu USD. Milyaran kalo dirupiahkan. Aplikasi – aplikasi yang cukup sederhana seperti android apps yang bisa mendeteksi lokasi bus kota dengan memanfaatkan crowd-sourcing laris dan membawa untung lumayan. Ini tempat pertama dimana saya merasa : “when I want to do something , nobody gets in my way”. Kesempatan ada, tinggal mau berusaha dan cerdik membaca situasi dan kebutuhan orang2.

Kemudian ide ini datang ke saya. Kenapa saya tidak berani mencoba hal-hal gila seperti ini? Ini menarik dan menantang. Selama ini saya begitu terpaku harus menjadi professor yang berkutat di lab , publish paper, presentasi riset ke conference, dll. Saya merasa saya harus ada sesuatu yang cukup ‘gila’ yang saya lakukan selama hidup saya. Becoming just a prof and nothing else suddenly seems to be mainstream. Saya bertekad untuk setidaknya mencoba mendirikan satu start-up company. Pengen tau rasanya. Haha.. Dan karena saya percaya suatu cita-cita harus diawali dengan planning, saya pun mendesain langkah-langkah yang kira2 akan saya ambil.

  1. Tipe start-up :  Saya berencana mendirikan internet company. Sasarannya adalah memanfaatkan crowd sourcing dan learning method yang menjadi research interest saya selama ini. Kenapa? Karena internet company lebih mudah dan murah untuk dibangun dan lebih cepat (fast – prototyped) dalam mendistribusikan produk. Konsekuensinya? Mudah jatuh.
  2. Lokasi : likely to be in US. Kenapa? Karena kemudahan untuk mendirikan company di sini. Itu satu. Terus daya beli masyarakat, hukum yang kuat, dan fasilitas yang lengkap. Selain itu rata-rata orang di usia 21+ sudah punya kartu kredit , smartphone, dan tablet. Jadi mereka kandidat kuat konsumen saya.
  3. Implikasi dari langkah 2 adalah saya harus kenal dan paham medan di US. Saya juga harus paham birokrasi US dan mempelajari statistik profil orang2 di sini. Salah satu caranya adalah dengan memiliki sebanyak mungkin data yang akurat.  Langkah konkritnya? Lanjut kuliah di USA!
  4. Ide datang dari ilmu. Kita bisa tahu ide kita cukup feasible dengan mengetahui fundamental knowledge untuk merealisasikan ide itu. Kalau saya ingin mendapat ide tentang sofware cerdas yang bisa membantu manusia maka saya harus paham AI, learning, software dan sedikit hardware. Maka harus ambil program post grad yang sesuai, yakni Computer Science.
  5. Harus punya networking yang kuat.
  6. Harus punya guts , rasa pede dan kreatif.
  7. Terakhir, dukungan dari orang2 dan teman2 tercinta. Semakin banyak yang mendukung dan menyemangati, semakin baik.

Huff, kira-kira begitu lah. Sampai ketemu lagi di post berikutnya.

[ Biorobotics , Robotics Leg , Humanoid Robot ] Laboratory

Bosan di lab berkutat di problem yang sama berhari-hari, saya memutuskan untuk berkunjung ke lab-lab robot lain di CMU. Robotics Institute sebenarnya punya banyak sekali lab robot (40-an) yang masing2 berjalan independen dan terpusat di satu gedung besar, Newell Simon Hall. Berikut foto-foto dari tiga lab yang saya kunjungi:

1. Biorobotics Lab : prof Howie Choset ,  berfokus di nature – inspired robots, dan surgical robots

2. Robotics Leg Lab : prof Hamurt Geyer , fokusnya di analisis gait (pola jalan) manusia dengan proyek berupa alat bantu jalan untuk handicapped person

3. Humanoid Lab : prof Chris Atkeson , segala hal yang berbau humanoid.

Menyambut Ramadan & Today’s Pictures

Penantian panjang akan usai esok hari. Ramadan akan tiba. Walau pun di sini suasananya tidak se-meriah  Bandung, tapi tetap saja ada sesuatu yang spesial saya rasakan. Beda dengan bulan-bulan lainnya.

Menyambut Ramadan di US bukan sesuatu yang saya rencanakan. This is beyond expectation. Kali ini saya dituntut benar-benar mandiri dan taat jadwal terutama pada waktu menyiapkan sahur dan iftar. Ya, karena di sini puasa gak puasa sama aja. Gak ada warung yang buka jam 4 pagi dan seperti biasa ‘warung’ tutup jam 9 magrib. Jadi harus berstrategi. Teman2 di Indonesia gimana? Selamat menunaikan ibadah puasa dan ibadah2 lain di bulan suci Ramadan 1433H ya.

Ada satu lagi hal menarik yang turut menyambut awal Ramadan ini. The Dark Knight Rises! Haha.. released July 20th.
insert: today’s snapshot

Herb Visited Manipulation Lab

Sore tadi sekitar jam 5 pm (pas jamnya ngantuk dan lelah kerja seharian) , lab saya kedatangan tamu tak diundang. Ternyata Herb, si personal robot! Herb ini sengaja datang (atau didatangkan?) ke Manipulation Lab tempat saya bekerja karena karena (katanya) mau kalibrasi sensor. Weleh2 .. kalibrasi sensor doang kok harus kesini Herb? Btw, ini foto si doi pas masuk ke lab saya.

Oiya, buat yang belum tau Herb, dia ini robot yang lagi tenar di CMU. Herb ditujukan buat menjadi pembantu manusia di rumah kelak. Sampai saat ini setahu saya Herb sudah diprogram untuk dapat bernavigasi sendiri , memasak di microwave, dan berinteraksi dengan manusia.